Karena pesepakbola Panutan Gaya Hidup

Para pesepakbola belakangan ini tak hanya bisa disebut atlet, namun juga selebritas. Penggunaan kata “bintang” atau “megabintang” acap kali disematkan kepada sang pemain oleh banyak media. Penggunaan kata tersebut dirasa-rasa lebih tepat ditujukan untuk para artis atau aktor atau profesi sejenisnya, ketimbang atlet sepakbola.

Meski begitu, sebenarnya sah-sah saja dilakukan. Toh, pesepakbola, juga tampil di layar kaca. Kita pun lebih mengetahui para atlet rumput hijau itu dari televisi atau internet, daripada langsung di tribun penonton.

Kita ambil contoh Premier League atau Liga Inggris, liga yang konon dikatakan sebagai liga terbaik. Liga paling kompetitif –terlebih setelah Leicester City jadi juara musim 2014/15. Pemasukkan hak siar Liga Inggris nilainya, tahun ini, total mencapai 8,3 miliar pounds atau setara dengan Rp 132 triliun. Bayangkan, ada berapa televisi dari berbagai belahan dunia yang membayar hak siar untuk mendapat paket-paket pertandingan?

Dengan nominal sebesar itu, wajar saja kalau Liga Inggris dikenal sebagai liga paling komersial. Saking komersialnya, jangan harap Anda bisa menonton pertandingannya meski melalui media sosial seperti Twitter, Facebook, atau Youtube. Sebab Liga Inggris mengontrol betul tayangan-tayangan mereka yang beredar. Kalau pun bisa, paling-paling juga hanya potongan. Sudah potongan, shaking pula.

Kian kemari, sepakbola tak sekadar pertandingan. Para penyiar televisi, juga media lainnya, memutar otak agar sepakbola tetap laku jadi konsumsi –demi menjalankan prinsip dasarnya: Rating adalah Tuhan– dengan mengindahkan kehidupan di luar lapangan.

Di tengah sengitnya persaingan memperebutkan uang pengiklan dan perhatian publik, media telah mengembangkan berbagai sejumlah peran. Kehidupan pribadi biasanya jadi santapan paling lezat untuk konsumsi, terutama soal gaya hidup. Pemberitaan-pemberitaan tentang pendapatan atau kekayaan atau segalanya yang menjadi materi seorang pesepakbola nyatanya laku di masyarakat. Tak terlepas juga bagaimana gaya hidup seputar fashion si pemain pun kerap menjadi berita hangat. Bahkan kehidupan paling pribadi pun kerap jadi konsumsi. Dan pesepakbolanya pun tak mempersoalkannya. Mungkin ada simbiosis mutualisme di situ. Semakin terekspos, semakin menambah nilai jual.

Ini memang tak bisa dipungkiri, kalau pesepakbola menjadi pusat perhatian untuk para “pemirsanya” di rumah. Contoh kecil saja, saat bermain sepakbola apakah Anda pernah mencoba menirukan gaya bermain pemain idola Anda? Atau, paling sederhana, pernahkan Anda ingin meniru model rambut pemain pujaan? Untuk yang terakhir, jujur saja, masih saya lakukan sampai saat ini.

“Dalam rasa fashion dan cara berpakaian pria, ada aturan. Tapi saya juga berpikir bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar dan saya pikir saya sudah melakukan itu selama bertahun-tahun, dengan cara-cara yang baik dan cara yang buruk,” ujar David Beckham dalam wawancaranya seperti dikutip dari mrporter.com.

Gaya hidup memang selalu sedap diikuti perkembangannya. Sebab, gaya hidup, menurut Assael gaya hidup dikenal dengan bagaimana orang menghabiskan waktunya (aktivitas/activities), apa hal terpenting yang orang pertimbangkan pada lingkungan (minat/interest), dan apa yang orang pikirkan tentang diri sendiri dan dunia sekitarnya (opini/opinions).

Gaya hidup juga dapat didefinisikan sebagai suatu frame of reference atau kerangka acuan yang dipakai seseorang dalam bertingkah laku. Di mana individu tersebut berusaha membuat seluruh aspek kehidupannya berhubungan dalam satu pola tertentu, dalam hal ini adalah sepakbola dalam artian luas, dan mengatur strategi bagaimana ia ingin dipersepsikan oleh orang lain.

Biasanya, seperti contoh di atas tadi, hal yang paling bisa ditiru yakni soal fashion. Sebelum di era modern, fashion pada dasarnya berfungsi sebagai penutup, perlindungan, dan kesopanan. Emang dasar modern, kini fashion sudah merupakan bagian dari gaya hidup, karena dengan fashion terkini seseorang bisa menunjukkan kualitas hidupnya.

Pamor seseorang pun bisa ikut terdongkrak ketika menggunakan fashion sedang trend, atau istilahnya sering disebut dengan fashionable. Istilah untuk orang-orang yang amat sangat menyukai fashion boleh-boleh saja untuk mengikuti gaya pemain idolanya. Untuk hal ini, seklai lagi, saya masih suka melakukannya hingga saat ini.

Saya sering berbelanja keperluan untuk mengikuti gaya pesepakbola idola saya, tetapi hanya di saat-saat tertentu. Misalnya, saat Singles Day dan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) di Zalora yang akan sebentar lagi akan hadir, untuk membeli segala atribut untuk tetap terlihat sporty, atau paling tidak mirip lah dengan pemain idola saya.

Buat kamu yang sangat suka belanja online, kamu tidak boleh melewatkan Singles Day dan Harbolnas di Zalora.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s