Rindukah AC Milan dengan Berlusconi kelak?

Agustus 2016 menjadi akhir cerita pemilik AC Milan paling sukses dalam sejarah, Silvio Berlusconi. Berlusconi resmi melepas tim yang ‘dikendarainya’ sejak 1986 kepada pengusaha asal Tiongkok, Yonghong Li.

Sepakbola Italia digemparkan skandal pengaturan pertandingan di kasta Serie A dan Serie B awal 1980-an (Totonero). Pelakunya sejumlah tim seperti Avellino, Perugia, Bologna, Lazio, AC Milan (Serie A), dan Taranto serta Palermo (Serie B).

Khusus untuk Lazio dan AC Milan dijebloskan ke Serie B. Bahkan Presiden AC Milan kala itu, Felice Colombo, diberhentikan dari jabatannya, pun Presiden Bologna, Tommaso Fabretti. Sedangkan tim lainnya masing-masing hanya diberikan sanksi minus lima (-5) poin.

Milan terpaksa menghabiskan musim 1980/81 di kasta kedua. Tak butuh waktu lama, Milan langsung juara Serie B dan promosi ke Serie A. Di musim 1981/82, Milan kembali terjun ke Serie B karena hanya finis di peringkat 14. Seperti asma, sebentar nafas sebentar tidak, sebentar juara sebentar degradasi, Milan promosi lagi di musim 1982/83.

Masalah Milan tak sampai di situ. Selepas promosi, keuangan Milan –yang memang sedang bermasalah– tak kunjung membaik. Giuseppe Farina, pemilik Milan ketika itu, tak berdompet tebal. Ia mulai coba dekati Silvio Berlusconi, yang memang sudah dikenal sebagai pengusaha¬†tajir di Milan dengan Holding Company miliknya, Fininvest SpA.

Lahir di Milan 29 September 1936. Berlusconi hanya anak seorang pegawai bank, tetapi tekun dalam dunia bisnis, umurnya baru menginjak 20 tahun waktu itu.

Ketekunannya berbuah manis. Di usia 30 tahun, anak pertama dari tiga bersaudara ini sudah bisa lebarkan sayap bisnisnya. Terbukti, setidaknya ada lebih dari satu (3) jaringan televisi jadi miliknya atau dengan kata lain, setidaknya, menguasai 80 persen pasar TV komersial di Italia. Belum lagi jaringan bioskop yang dikuasainya di Italia.

Kembali soal Farina. Milan diujung tanduk karena finansial. Berlusconi jual mahal. Dirinya menunggu sampai waktu yang tepat, sampai Milan mau menjual murah sahamnya. Singkat kata, Milan menyerah dan Berlusconi pegang saham di sana. Tak main-main, lulusan Hukum Unviersitas Statale, Milano, memiliki saham sebesar 99,9 persen. Di sinilah era Milan dimulai.

Berlusconi membuat perubahan besar-besaran dan mengakar. Milan dibuatnya tak hanya sebagai klub sepakbola, namun juga dijadikan sebuah komoditi agar seksi untuk dijual. Meski begitu Rossoneri di bawah Berlusconi lebih visioner ketimbang tim-tim lain di Italia atau dunia sekali pun, kala itu.

Gebrakan Berlusconi dimulai ketika mendatangkan trio asal Belanda: Frank Rijkaard, Ruud Gullit, dan Marco van Basten –kemudian trio ini lebih terkenal melampaui trio sebelumnya, GreNoLi (Gunnar Gren, Gunnar Nordahl, dan Nils Liedholm) asal Swedia– juga tiga pemain lokal; Roberto Donadoni, Carlo Ancelotti, dan Giovanni Galli. Arrigo Sacchi dipilih sebagai arsitek.

Hasilnya, di bawah kepimpinan Sacchi, Milan sukses gondol trofi Serie A (1987/88), Supercoppa Italiana (1988), European Cup (sekarang Liga Champions) (1988/89, 1989/90), European Supercup (1989, 1990), dan Intercontinental Cup (1989, 1990). Rancangan Berlusconi sukses besar, koar tribun Curva Sud makin berkobar.

Carlo Ancelloti, Frank Rijkaard, Marco Van Basten and Ruud Gullit of AC Milan
Trio AC Milan asal Belanda// Credit: Simon Bruty/Allsport

Milan dengan racikan ala Sacchi begitu sukes, federasi sepakbola Italia kepincut. Pelatih berkepala plontos itu direkrut untuk tunggangi tim nasional Italia. Rossoneri berganti pelatih, Fabio Capello selanjutnya.

Racikan Capello sama hebatnya. Hampir dua musim atau 58 pertandingan kekalahan tak pernah bertamu di Milan. Istilah Gli Invicibli (The Invicibles) pun disematkan. Sekali lagi, rancangan Berlusconi berbuah manis. Di era Capello ini juga Milan pernah mampir ke Indonesia.

Milan bukan tanpa cacat. Pada pertenghan hingga akhir 90-an, klub yang didirikan oleh ekspatriat Inggris ini, prestasinya sempat terjun payung. Berlusconi geram. Tercatat, sepeninggalan Capello, Milan enam kali berganti pelatih kepala. Hingga akhirnya Carlo Ancelotti datang jelang pertengahan musim 2001/02 dan bawa angin segar.

Musim 2002/03 menjadi titik awal kebangkitan Milan yang berhasil gondol Liga Champions, atau semusim setelah Ancelotti jadi pelatih, usai kalahkan rival satu liga, Juventus, di final lewat babak adu jotos. Berlusconi sumringah lagi.

Selanjutnya: Rezim Berlusconi mulai goyang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s