Perdagangan Manusia dalam Sepak Bola

Menjadi pemain sepak bola sepertinya memang menjadi mimpi bagi hampir seluruh anak-anak di dunia. Bisa bermain seperti tokoh idola-Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi misalnya-tentu itu adalah cita-cita mulia. Tetapi cita-cita tidaklah mudah dan tidak mulus seperti bayangan mereka.

Dalam catatan Fotografer Jurnalistik asal Amerika, Jason Andrew, di Afrika untuk bisa membuka pintu impian menjadi pemain bola ternyata begitu sulit. Kalau pun bisa, itu terlalu mahal. Mereka yang ingin mewujudkan mimpinya menjadi pemain sepak bola hebat harus membayar, setidaknya, $5000 kepada seorang agen. Lalu mereka akan dibawa ke Turki untuk memulai karier sebagai pemain muda profesional.

Sampai di tempat tujuan, bukan angan-angan yang selama ini mereka dambakan, justru mimpi buruk didapat. Mereka ditinggal, ditelantarkan, dan dibiarkan begitu saja oleh sang agen. Pada akhirnya, banyak di antara mereka menjadi putus asa dan jatuh miskin di sana.

Jason Andrew dalam proyeknya bertajuk “Black Diamonds” menceritakan tentang empat pesepak bola muda asal Nigeria yang tertarik ke Turki usai dijanjikan agen tak bertanggung jawab untuk menjadi pemain sepak bola. Menurut Andrew, permasalahan ini tak banyak disampaikan ke publik. Sedangkan perdagangan manusia dalam sepak bola semacam ini telah memakan korban hingga 20.000 pemain di seluruh Eropa.

“Ide ini datang suatu sore ketika aku masuk ke kafe Internet dan bertemu Akeem, pesepak bola Nigeria yang menjadi salah satu sumber informasi utama dari proyek ini. Saya terkejut dengan perjalanannya (dari harapan menjadi putus asa). Malam berikutnya, sambil duduk di kafe yang sama dengan 20-30 pemain lainnya sambil menonton pertandingan Chelsea, saya menyadari bahwa Akeem tidak sendirian dan aku melihat bahwa ada cerita yang harus diberitahu,” tutur Andrew, seperti dikutip dari Leica Camera.

Tidak ada Porto untuk si Rambo

Selain Afrika, Amerika Selatan juga menjadi target para agen-agen palsu ini. Kali ini Portugal tujuannya. Pemain-pemain muda bertalenta datang ke Portugal dengan janji menjadi pemain sepak bola profesional, meski akhirnya mengalami nasib naas: ditinggalkan oleh agen dan bahkan klubnya sendiri. Ini adalah cerita keputus asa-an yang kian muncul dalam sejarah sepak bola di Portugal.

Alexandre Rambo
fifpro.org

Badan Imigrasi Portugal melakukan sebuah penyelidikan dengan kesimpulan bahwa ada 157 pemain dari berbagai negara lain yang ilegal, 105 di antaranya berasal dari Afrika dan tiga pemain sepak bola amatir sudah ditangkap karena mengabaikan pemberitahuan untuk meninggalkan Portugal secara sukarela. Pemeriksaan dilakukan di 60 klub dan beberapa klub olahraga lainnya. Setiap pelanggaran biasanya akan mereka kenakan sanksi mencapai 50 sampai 250.000 euro.

Presiden Serikat Pemain Sepak Bola Portgual, Joaquim Evangelista, mengatakan bahwa perdagangan manusia dalam sepak bola adalah realitas, dengan jaringan yang beroperasi secara terorganisir, khususnya di Portugal.

Mereka membawa para pemain muda ke sini, lalu sang agen bertindak sebagai pemiliknya dan disewakan kepada klub. Jika pemain ini berhasil, keuntungan berasal dari proses transfer antara sang agen dan klub. Sebaliknya, jika tidak berhasil mereka akan dibiarkan dan sang agen akan melapor ke bagian imigrasi untuk kemudian menyuruh mereka kembali ke negara asal,” ucap Evangelista, seperti dikutp dari Fifpro

Usianya masih begitu belia, 18 tahun. Ia diberi nama Alaexandre Rambo. Ya, Rambo… Dinamai seperti bintang film dan berharap untuk menjadi bintang sepak bola. Mimpi ini membuatnya meninggalkan tim junior Paraná Clube di Brasil dan datang ke Portugal.

Saat masih di Brasil, Rambo dipegang oleh agen bernama Silvio Donizete. Suatu ketika, Donizete memiliki kesepakatan dengan agen lain bernama Eder Lucas Zem. Dengan mengimingi kalau Eder memiliki relasi di FC Porto, dan Rambo akan dijanjikan bermain di FC Porto untuk level junior.

Saat di Portugal janji manis Eder tak juga menjadi nyata, hingga sampai suatu ketika Eder dengan mudahnya mengatakan kalau tak ada kontrak dengan Porto kepada Rambo. Eder juga menjanjikan akan membayar tagihan hotel selama Rambo bermalam di sana dan tiket pesawat pulang ke Brasil. Sayangnya, lagi-lagi Eder hanya membual.

Dua bulan kemudian barulah Rambo baru bisa kembali ke tanah airnya, setelah menghubungi dan meminta bantuan kepada agennya selagi di Brasil, Silvio Donizete. Selama dua bulan Rambo harus rela menjadi pegawai di hotel tempatnya menginap akibat tak mampu membayar uang sewa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s